Follow Me

Selasa, 31 Januari 2012

Proses Terjadinya Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Selamat hari raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu yang merayakan, nah di hari yang suci ini saya post tentang proses terjadinya Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Proses terciptanya Bhuana Agung
            Bhuana Agung adalah alam raya, alam semesta, jagad raya, alam besar, brahmanda, dan macrocosmos.
            Pada saat alam ini “ada” disebut masa “Srsti” atau “Brahmadiwa” atau siang hari Brahma. Sedangkan saat alam semesta ini meniada disebut masa “Pralaya” atau ”Brahmanakta”.
            Menurut ajaran Agama Hindu, alam semesta berasal dari Bhatara Siwa yang disebut juga Rudra, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Prosesnya dimulai dari yang paling halus/gaib kemudian menjadi lebih kasar/nyata. Disebutkan ada 12 tahapan dengan istilah “Tattwa rwawelas” yakni Bhatara Siwa (Rudra), Sang Purusa (Brahman), Awyakta (Wisnu), Budhi yang bersifat sattwa, Ahamkara yang bersifat rajah, Panca Tanmatra yang bersifat tamah, Manah, Akasa, Bayu, Agni, Apah, Perthiwi.
            Bhuana Agung diciptakan secara bertahap. Berawal dari kekuatan tapa-Nya, terciptalah dua kekuatan yang disebut Purusa dan Pradhana. Selanjutnya dari pertmuan Purusa dan Pradhana munculah zat yang sangat halus yang disebut dengan “citta”. Citta yang terpengaruh oleh kekuatan Tri Guna yaitu Sattwam, Rajas, dan Tamas terciptalah unsur Buddhi, Manah dan Ahamkara. Tahapan berikutnya setelah muncul Tri Guna terciptalah dasendriya oleh kekuatan tapa-Nya Brahman, maka muncullah Panca Tan Matra yaitu lima unsur zat yang bersifat halus. Dari unsur-unsur Panca Tan Matra inilah muncul Panca Maha Bhuta yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat lebih kasar dari Panca Tan Matra. Panca Maha Bhuta berevolusi serta menyempurnakan bentuknya dan terciptalah Brahmanda-Brahmanda yang salah satunya adalah Bumi. Bumi sebagai sebagai tempat makhluk hidup keberadaannya berlapis-lapis.
            Lapisan menuju ruang jagat raya disebut “Sapta Loka” yang terdiri dari:
a)      Bhur Loka (alam manusia)
b)      Bhuwah Loka (alam pitra)
c)      Swah Loka (alam dewa)
d)     Maha Loka
e)      Jana Loka
f)       Tapa Loka
g)      Satya Loka (ruang vakum = Nirgunan Brahman)
Lapisan menuju inti Bumi atau “Kalagni Rudra” disebut “Sapta Patala” yang terdiri dari:

a)      Atala
b)      Vitala
c)      Sutala
d)     Talatala
e)      Mahatala
f)       Rasatala
g)      Patala


Demikian Agama Hindu menjelaskan tentang asal mula terjadinya unsur-unsur bhuana agung yang pada mulanya bersifat sangat halus. Pada masa “Srsti” dievolusi oleh Tuhan sehingga menjadi mengeras, dan pada saat “Pralaya” nanti diolah lagi oleh Tuhan untuk dikembalikan pada sifat yang sangat halus itu melalui hukum-Nya yang disebut dengan “Rta”.

Proses terciptanya Bhuana Alit
            Bhuana Alit adalah mikrokosmos, alam kecil atau dunia kecil (isi dari alam semesta), seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan yang lainnya.
            Setelah Ida Sang Hyang Widhi Wasa mencipakan alam semesta (Bhuana Agung) maka berkehendaklah Beliau menciptakan isinya seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan yang lainnya. Makhluk hidup diciptakan mulai dari yang terendah sampai dengan makhluk hidup yang tertinggi.
            Makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah terciptanya alam semesta ini adalah:
a.       Kelompok Eka Pramana, yaitu makhluk hidup yang memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yakni Bayu. Makhluk hidup ini disebut “Sthawara”, yaitu makhluk hidup yang tidak dapat berpindah-pindah seperti tumbuh-tumbuhan.
Yang tergolong “Sthawara” adalah:
1)      Trana (bangsa rumput)
2)      Lata (bangsa tumbuhan menjalar)
3)      Taru (bangsa semak dan pepohonan)
4)      Gulma (bangsa pohon yang bagian luar pohon bersangkutan berkayu keras dan bagian dalamnya berongga atau kosong)
5)      Janggama (bangsa tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon yang lain)
b.      Kelompok Dwi Pramana, yaitu makhluk hidup yang dalam hidupnya memiliki dua kekuatan yakni Bayu dan Sabda. Makhluk hidup ini disebut Satwa atau Sato yaitu bangsa binatang yang pada umumnya bersifat buas, namun diantaranya ada yang bersifat jinak terutama yang mendapat pendekatan secara manusiawi.
Yang tergolong Satwa atau Sato:
1)      Swedaya (bangsa binatang bersel satu)
2)      Andaya (bangsa binatang yang bertelur)
3)      Jarayudha (bangsa binatang yang menyusui)
c.       Kelompok Tri Pramana, yaitu makhluk hidup yang memiliki tiga kekuatan dalam hidupnya yakni Bayu, Sabda, dan Idep. Makhluk hidup ini disebut Manusya. Manusya atau manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena telah memiliki pikiran. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna diklasifikasikan sebagai berikut:
1)      Nara Mega (manusia binatang)
2)      Wamana (manusia kerdil)
3)      Jatma (manusia yang paling sempurna)
Jenis-jenis manusia antara lain:
1)      Manusia laki-laki (Purusa)
2)      Manusia perempuan (Pradana)
3)      Manusia banci
Manusia sebagai makhluk tertinggi kelahirannya mengalami siklus yang panjang. Mulai dari bayi dalam kandungan berkat pertemuan antara Kama Petak/Sukla dan Kama Bang/Swanita. Kama Petak/Sukla adalah sel laki-laki atau sperma yang disimbulkan dengan Sang Hyang Smara. Kama Bang/Swanita adalah sel wanita atau telur/ovum yang disimbulkan dengan Dewi Ratih. Dalam Lontar Anggastyaprana, pertemuan Kama Petak dengan Kama Bang disebut Sang Ajursulang. Sampai akhirnya pertemuan tersebut membentuk sygote dan mengalami proses pertumbuhan dalam rahim sang ibu yang semakin hari semakin membesar serta mengubah dirinya sehingga akhirnya membentuk dan lahirlah seorang bayi “Bhuana Alit”.
            Kelahiran manusia sebagai makhluk hidup (Bhuana Alit) merupakan wujud yang mulia karena semuanya itu bersumber dari Tuhan. Dengan demikian kita hendaknya mensyukuri dan mengabdikan diri demi kepentingan dharma.

1 komentar: